Pendahuluan Pulau Bali, yang dikenal sebagai "Pulau Dewata" dengan keindahan dan kedamaiannya, pernah mengalami masa-masa kelam akibat aksi terorisme. Salah satu peristiwa yang tak terlupakan adalah Tragedi Bom Bali 2 yang terjadi pada tanggal 1 Oktober 2005. Peristiwa ini menjadi catatan hitam sejarah nasional, terjadi tepat tiga tahun setelah tragedi Bom Bali 1 pada tahun 2002.
Melalui artikel ini, saya ingin mengulas kembali kronologi, dampak, serta pelajaran berharga dari peristiwa tersebut sebagai bagian dari tugas mata pelajaran TIK.
Kronologi Kejadian Serangan ini terjadi pada Sabtu malam, saat kawasan wisata sedang dipadati pengunjung. Tiga ledakan bom bunuh diri terjadi hampir bersamaan sekitar pukul 19.40 WITA di dua kawasan berbeda:
Kafe Nyoman (Kuta): Lokasi ledakan pertama yang menyebabkan kerusakan parah.
Kafe Menega (Jimbaran): Lokasi kedua di kawasan kuliner tepi pantai
Restoran R.AJA's (Kuta Square): Ledakan ketiga yang menghantam pusat perbelanjaan ramai.
Berbeda dengan serangan 2002 yang menggunakan bom mobil, pada Bom Bali 2 ini para pelaku menggunakan bom ransel yang berisi bahan peledak dan serpihan logam (pelet) untuk memaksimalkan dampak mematikan di kerumunan.
Pelaku dan Jaringan Teror Berdasarkan investigasi Polri, serangan ini didalangi oleh jaringan teroris Jemaah Islamiyah (JI) yang memiliki afiliasi dengan Al-Qaeda. Tiga pelaku bom bunuh diri yang tewas di tempat teridentifikasi sebagai:
Muhammad Salik Firdaus (Pelaku di Kafé Nyoman).
Misno alias Wisnu (Pelaku di Kafé Menega).
Ayib Hidayat (Pelaku di Restoran R.AJA's).
Simak penjelasan lengkap mengenai analisis peristiwa ini dalam video presentasi berikut:
Dampak dan Kebangkitan Tragedi ini menelan korban jiwa sebanyak 23 orang (termasuk 3 pelaku) dan melukai lebih dari 196 orang. Selain korban jiwa, pariwisata Bali sempat lumpuh karena penurunan drastis kunjungan wisatawan mancanegara.
Namun, masyarakat Bali dan Indonesia membuktikan ketangguhannya. Dengan penanganan cepat dari pemerintah, operasi penegakan hukum oleh Densus 88, dan semangat solidaritas warga, Bali berhasil bangkit kembali (Bali Recovery).
Penutup Sejarah ini mengajarkan kita bahwa terorisme adalah ancaman nyata yang harus dihadapi dengan kewaspadaan dan persatuan. Mari kita jaga toleransi dan perdamaian di negeri ini agar tragedi serupa tidak terulang kembali. "Damai itu Indah."
Penulis: Husein Fadhlullah Alatas
Tanggal: 23 Desember 2025
%20(1).jpg)
%20(1).jpg)

.jpeg)
.jpg)
.webp)





